Kunci Narasi

Kunci Narasi Indonesia

Bulog Gandeng BRIN Untuk Cegah Beras Berkutu Pakai Teknologi Baru
Teknologi

Bulog Gandeng BRIN Untuk Cegah Beras Berkutu Pakai Teknologi Baru

Kuncinarasi.comBadan Urusan Logistik (Bulog) menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mencegah permasalahan beras berkutu melalui penerapan teknologi modern. Langkah ini diambil sebagai upaya menjaga kualitas stok beras nasional dan mencegah kerugian akibat serangan hama yang selama ini menjadi masalah serius dalam distribusi pangan.

Kolaborasi ini menggabungkan pengalaman Bulog dalam manajemen logistik pangan dengan kemampuan BRIN dalam riset dan pengembangan teknologi pengawetan. Tujuannya adalah menghadirkan solusi inovatif yang tidak hanya menjaga kualitas beras, tetapi juga meningkatkan efisiensi distribusi dan daya simpan.

Masalah Beras Berkutu di Indonesia

Beras berkutu menjadi isu yang kerap mengganggu pasokan pangan nasional. Kondisi ini tidak hanya menurunkan kualitas beras, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian finansial bagi pemerintah maupun masyarakat. Faktor utama munculnya beras berkutu antara lain kelembapan yang tinggi, penyimpanan yang tidak tepat, serta durasi stok yang terlalu lama.

Dalam laporan Bulog, kasus beras berkutu sering terjadi di gudang-gudang tradisional dengan sirkulasi udara terbatas. Oleh karena itu, penerapan teknologi modern menjadi langkah strategis untuk mengurangi risiko tersebut.

Teknologi Baru untuk Pengawetan Beras

BRIN menghadirkan teknologi pengawetan beras berbasis inovasi ilmiah, termasuk penggunaan sensor kelembapan, kontrol suhu, dan metode pengemasan anti-hama. Teknologi ini memungkinkan pemantauan kualitas beras secara real-time dan mendeteksi potensi kerusakan sejak dini.

Selain itu, metode ini dikombinasikan dengan proses sterilisasi alami yang ramah lingkungan, sehingga aman bagi konsumen dan mengurangi ketergantungan pada bahan kimia pengawet. Dengan teknologi ini, beras dapat disimpan lebih lama tanpa kehilangan kualitas maupun rasa.

Proses Implementasi di Gudang Bulog

Implementasi teknologi baru dimulai di gudang-gudang strategis milik Bulog di berbagai provinsi. Petugas diberikan pelatihan khusus untuk mengoperasikan sistem monitoring, mengatur kondisi penyimpanan, dan menindaklanjuti peringatan yang muncul dari sensor.

Setiap gudang kini dilengkapi perangkat pemantau kelembapan, suhu, dan tanda-tanda adanya serangan hama. Data dikirim secara digital ke pusat pengendalian Bulog, sehingga keputusan terkait rotasi stok, distribusi, atau tindakan pencegahan dapat dilakukan secara cepat dan akurat.

Dampak Positif bagi Ketersediaan Pangan

Penerapan teknologi ini diharapkan dapat menjaga kualitas beras dan menurunkan jumlah stok yang rusak akibat kutu. Dengan kualitas beras yang lebih stabil, Bulog dapat memastikan pasokan beras untuk masyarakat tetap aman, terutama menjelang musim panen dan hari besar nasional.

Selain itu, efisiensi penyimpanan beras juga berdampak pada pengurangan biaya operasional, karena stok dapat bertahan lebih lama tanpa perlu sering diganti atau dibuang.

Dukungan Pemerintah dan Stakeholder

Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, serta lembaga terkait mendukung penuh kolaborasi Bulog dan BRIN. Program ini dianggap selaras dengan strategi ketahanan pangan nasional, karena kualitas beras yang terjaga berpengaruh langsung terhadap stabilitas harga dan ketersediaan pangan.

Selain itu, pelaku usaha distribusi dan pedagang lokal juga mendapatkan manfaat dari beras berkualitas tinggi yang bebas kutu, sehingga kepercayaan konsumen meningkat.

Tantangan dan Upaya Pengendalian

Meski teknologi baru menjanjikan, implementasi di lapangan tetap menghadapi tantangan. Perlu investasi awal yang cukup besar untuk pemasangan sensor dan perangkat monitoring. Selain itu, petugas gudang harus terbiasa dengan sistem digital baru agar data dapat dimanfaatkan secara optimal.

BRIN bersama Bulog melakukan pendampingan dan pelatihan berkelanjutan untuk memastikan adaptasi teknologi berjalan lancar. Proses evaluasi dan peningkatan sistem pun dilakukan secara berkala untuk menghadapi tantangan lingkungan, seperti kelembapan tinggi dan hama yang adaptif.

Masa Depan Teknologi Pangan

Kolaborasi Bulog dan BRIN menjadi model penerapan inovasi teknologi untuk sektor pangan. Ke depan, teknologi ini tidak hanya bisa diterapkan pada beras, tetapi juga pada komoditas pangan lain yang rentan terhadap hama dan kerusakan.

Pemanfaatan data real-time, sensor digital, dan pengemasan inovatif membuka peluang untuk menghadirkan sistem penyimpanan pangan yang lebih modern, efisien, dan aman di seluruh Indonesia.

Inovasi untuk Ketahanan Pangan Nasional

Dengan penerapan teknologi baru melalui kerja sama Bulog dan BRIN, kualitas beras nasional diharapkan terjaga lebih baik, mengurangi kerugian akibat beras berkutu, dan meningkatkan efisiensi distribusi.

Langkah ini menjadi bukti bahwa inovasi teknologi dan kolaborasi antar lembaga publik dapat menghadirkan solusi konkret bagi masalah pangan, sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional. Masyarakat pun diuntungkan dengan beras berkualitas tinggi yang aman, tahan lama, dan siap dikonsumsi.