Kuncinarasi.com — Di tengah derasnya arus digitalisasi dan inovasi teknologi modern, masyarakat Tulungagung ternyata masih mempertahankan sejumlah teknologi kuno yang tetap digunakan hingga tahun 2025. Fenomena ini menjadi sorotan Radar Tulungagung karena menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak sepenuhnya menghapus keberadaan alat-alat tradisional yang dianggap sudah usang. Sebaliknya, sebagian masyarakat justru masih mengandalkan alat-alat sederhana tersebut karena dinilai lebih cocok, ekonomis, dan memiliki nilai kearifan lokal.
Para peneliti budaya menyebut fenomena ini sebagai resiliensi Teknologi tradisional, yaitu bertahannya alat-alat lama karena masih memiliki fungsi yang relevan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di sektor pertanian, pengolahan makanan, dan pekerjaan rumah tangga.
Lesung dan Alu, Teknologi Penumbuk Padi yang Tetap Bertahan
Salah satu alat tradisional yang masih bertahan adalah lesung dan alu. Alat menumbuk padi berbahan kayu ini sudah digunakan ratusan tahun oleh masyarakat Jawa. Meski mesin penggiling padi modern lebih cepat dan efisien, sejumlah warga di Kecamatan Pagerwojo dan Sendang tetap memilih menumbuk padi secara manual.
Alasannya beragam. Selain hasil tumbukan dianggap lebih enak, penggunaan lesung juga dipercaya menghasilkan beras yang lebih pulen dengan tekstur alami. Beberapa warga bahkan menggunakannya untuk membuat tepung beras yang lebih halus tanpa tambahan bahan kimia. Selain itu, kegiatan menumbuk padi bersama sering menjadi sarana memperkuat hubungan sosial antarwarga.
Jala Tradisional Tetap Digemari Nelayan
Di wilayah pesisir selatan Tulungagung, seperti di Pantai Sine dan Popoh, nelayan masih menggunakan jala tradisional untuk menangkap ikan. Walaupun teknologi sonar dan mesin penangkap modern tersedia, banyak nelayan kecil mengandalkan jala karena murah, mudah diperbaiki, dan tidak membutuhkan bahan bakar berlebih.
Menurut salah satu nelayan, peralatan modern memang praktis, tetapi biaya operasionalnya jauh lebih tinggi. Dengan jala, mereka bisa menangkap ikan sesuai kebutuhan harian tanpa mengeluarkan modal besar. Selain itu, penggunaan jala dianggap lebih ramah lingkungan karena tidak merusak ekosistem laut.
Lumpang Batu untuk Menghaluskan Bumbu
Di era blender dan food processor, lumpang batu ternyata masih menjadi alat andalan para ibu rumah tangga di beberapa desa di Tulungagung. Bagi sebagian orang, bumbu yang ditumbuk manual menggunakan lumpang dinilai lebih wangi dan memiliki rasa yang lebih kuat karena proses penghalusan yang bertahap dan alami.
Para pedagang makanan tradisional seperti pecel, rujak cingur, hingga rawon juga masih memilih lumpang batu untuk menghasilkan cita rasa otentik. Bahkan, beberapa warung kuliner terkenal di Tulungagung menyatakan bahwa mereka tidak pernah beralih ke alat modern demi menjaga kualitas masakan.
Pengrajin Masih Gunakan Gerinda Kaki dan Alat Ukir Manual
Di sentra kerajinan Tulungagung, seperti pengrajin batu marmer dan kayu, alat-alat sederhana seperti gerinda kaki, kikir manual, dan pahat tradisional masih digunakan berdampingan dengan peralatan modern. Para pengrajin menyebutkan bahwa alat manual memberikan presisi lebih tinggi untuk detail tertentu, terutama dalam pekerjaan ukir halus dan finishing.
Selain faktor teknis, penggunaan alat kuno juga menjaga seni kerajinan tangan tetap autentik. Banyak wisatawan yang membeli produk ukir karena nilai seninya, bukan semata hasil mesin modern. Oleh karena itu, keberlanjutan alat tradisional justru menjadi daya tarik ekonomi lokal.
Kincir Air dan Sumur Tradisional Masih Berfungsi
Di beberapa wilayah pedesaan yang belum sepenuhnya terjangkau irigasi modern, kincir air tradisional masih digunakan untuk mengalirkan air ke sawah. Alat ini memanfaatkan arus sungai untuk memutar roda kayu yang mendorong air ke tanah pertanian. Teknologi sederhana ini tetap bertahan karena tidak membutuhkan listrik atau bahan bakar.
Selain itu, sumur tradisional juga masih digunakan warga meskipun PDAM sudah masuk ke banyak desa. Alasannya, sumur dinilai lebih andal saat musim kemarau dan memiliki kualitas air yang lebih segar. Beberapa warga bahkan menjaga sumur karena dianggap memiliki nilai sejarah keluarga.
Alasan Teknologi Kuno Tetap Bertahan
Ada beberapa faktor mengapa teknologi kuno tetap bertahan di Tulungagung:
- Biaya penggunaan rendah
Alat tradisional tidak membutuhkan listrik, bahan bakar, atau perawatan mahal. - Nilai budaya dan kebiasaan turun-temurun
Banyak warga merasa alat tradisional memiliki nilai sejarah dan kedekatan emosional. - Kualitas hasil lebih baik
Contohnya, beras tumbuk lesung atau bumbu dari lumpang memiliki kualitas rasa yang berbeda. - Ramah lingkungan
Tidak menghasilkan polusi dan tidak bergantung pada energi fosil. - Kemandirian pengguna
Semua alat bisa diperbaiki sendiri tanpa harus membeli suku cadang modern.
Kolaborasi Tradisi dan Teknologi Modern
Meski alat-alat sederhana masih bertahan, masyarakat Tulungagung tidak menolak teknologi modern. Banyak desa yang menggabungkan teknologi kuno dan modern agar tetap efisien tanpa kehilangan nilai tradisional. Misalnya, penggunaan mesin penggiling padi untuk produksi massal tetapi tetap memakai lesung untuk konsumsi rumah tangga.
Pemerintah daerah juga mendukung pelestarian alat tradisional melalui festival budaya, pelatihan pengrajin, serta promosi produk lokal. Pendekatan ini sekaligus memperkuat identitas daerah dan menjadi daya tarik wisata budaya.
Penutup: Tradisi yang Bertahan di Tengah Modernisasi
Fenomena penggunaan teknologi kuno yang masih bertahan di Tulungagung pada tahun 2025 menunjukkan bahwa modernisasi tidak selalu berarti meninggalkan alat tradisional. Sebaliknya, masyarakat mampu memilih teknologi sesuai kebutuhan, nilai, dan budaya mereka. Dengan tetap mempertahankan alat-alat sederhana, warga Tulungagung tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menghadirkan solusi ramah lingkungan yang relevan dengan zaman.




