Kunci Narasi

Kunci Narasi Indonesia

Harga Properti Di SCBD Bikin Dompet Rakyat Jelata Menangis
Bisnis

Harga Properti Di SCBD Bikin Dompet Rakyat Jelata Menangis

Kuncinarasi.com – Harga tanah di Sudirman Central Business District (SCBD) super mahal, bahkan termahal di Jakarta. Jika ingin tinggal di sini pun harga huniannya nggak main-main. Head of Research & Consultancy PT Leads Property Service Indonesia Martin Hutapea menyebut harga tanah di SCBD merupakan yang paling mahal di Jakarta. Kawasan ini masuk dalam Segitiga Emas Jakarta, yakni pusat komersial terbesar di Indonesia.

Sudirman Central Business District atau yang lebih dikenal dengan sebutan SCBD bukan sekadar titik koordinat di Jakarta Selatan. Kawasan seluas 45 hektar ini adalah simbol kasta tertinggi ekonomi Indonesia. Namun, di balik kemilau gedung pencakar langit dengan fasad kaca yang memukau, tersimpan realita pahit bagi masyarakat umum: harga propertinya telah mencapai level yang tidak masuk akal bagi kantong “rakyat jelata”.

Menjulang ke Langit, Bikin Dompet Rakyat Jelata Menangis

Membicarakan angka di sini bukan lagi soal cicilan jutaan rupiah, melainkan miliaran hingga triliunan yang sanggup membuat siapa pun mengelus dada. Inovasi tata kota di SCBD memang patut diacungi jempol. Dengan sistem kabel bawah tanah, trotoar lebar yang ramah pejalan kaki, dan integrasi transportasi modern, kawasan ini adalah prototipe kota masa depan. Namun, kenyamanan premium ini dibayar dengan harga tanah yang terus meroket tanpa henti. Di tahun 2026, harga tanah di SCBD diperkirakan telah menembus angka ratusan juta rupiah per meter persegi.

Bagi seorang karyawan dengan gaji upah minimum, membeli satu meter persegi tanah di sini mungkin membutuhkan waktu menabung selama puluhan tahun tanpa makan dan minum. Ketimpangan ini menciptakan jarak yang semakin lebar antara fungsi kawasan sebagai pusat bisnis nasional dengan aksesibilitas hunian bagi para pekerja yang sebenarnya menghidupkan kawasan tersebut setiap harinya.

Hunian Vertikal: Kemewahan yang Tak Terjangkau

Jika kita menilik harga unit apartemen di SCBD, angka-angkanya seringkali membuat dahi berkerut. Unit dengan tipe terkecil sekalipun bisa dibanderol mulai dari Rp5 miliar ke atas. Sementara itu, untuk unit penthouse atau hunian eksklusif dengan pemandangan langsung ke arah jalan protokol, harganya bisa melampaui Rp50 miliar hingga Rp100 miliar.

Harga tersebut tidak hanya mencakup ruang tinggal, tetapi juga gengsi, akses eksklusif ke fasilitas gym kelas dunia, kolam renang di ketinggian langit, dan sistem keamanan berlapis. Bagi rakyat jelata, harga satu unit apartemen di sini setara dengan membangun satu perkampungan kecil di pinggiran kota. Inilah yang menyebabkan SCBD sering disebut sebagai “negara di dalam kota”, di mana aturan ekonomi konvensional seolah tidak berlaku.

Dampak Gentrifikasi dan Pergeseran Hunian

Tingginya harga properti di pusat kota seperti SCBD memicu efek domino yang disebut gentrifikasi. Para pekerja kelas menengah ke bawah yang bekerja di gedung-gedung mewah tersebut terpaksa harus menempuh perjalanan berjam-jam dari kota satelit seperti Bogor, Depok, Tangerang, atau Bekasi. Mereka “menangis” dua kali: pertama karena harga hunian di tempat kerja yang tak tergapai, dan kedua karena biaya transportasi serta energi yang terkuras setiap harinya.

Meskipun pemerintah dan pengembang terus mendorong inovasi hunian berkonsep Transit Oriented Development (TOD), kenyataannya lahan di jantung SCBD sudah terlalu premium untuk dijadikan hunian bersubsidi atau terjangkau. Properti di sini telah bergeser fungsi dari sekadar tempat tinggal menjadi aset investasi spekulatif bagi kaum ultra-kaya.

Kesimpulan: Realita Pahit di Tengah Kemajuan

SCBD adalah bukti nyata keberhasilan pembangunan infrastruktur dan ekonomi makro Indonesia. Namun, ia juga menjadi cermin retak bagi keadilan akses hunian. Selama harga properti di pusat bisnis terus dibiarkan liar tanpa intervensi kebijakan hunian vertikal rakyat yang signifikan, maka SCBD akan tetap menjadi pemandangan indah yang hanya bisa dinikmati dari balik kaca bus TransJakarta oleh para pejuang nafkah.

Mimpi untuk memiliki hunian di pusat kota nampaknya masih akan menjadi angan-angan kosong bagi sebagian besar rakyat jelata. Pada akhirnya, SCBD tetap berdiri tegak dengan kemegahannya, sementara dompet rakyat kecil terus menangis di tengah hiruk pikuk klakson kendaraan di sore hari yang macet.