Kuncinarasi.com – Bank Indonesia mencatat Hasil Perkembangan Properti Komersial (PPKom) menunjukkan bahwa harga properti komersial di Bali mengalami perlambatan. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja menjelaskan penurunan harga properti komersial tercermin dari Indeks Harga Properti Komersial Provinsi Bali pada kuartal IV/2025 yang tumbuh sebesar 0,68% (year-on-year/yoy).
Lebih rendah dibandingkan kuartal III/2025 yang tumbuh 3,56% (yoy). Perkembangan harga properti tahunan didorong oleh pertumbuhan perkantoran sewa, ritel sewa, serta hotel, masing-masing sebesar 5,93% (yoy), 0,51% (yoy), dan 0,68% (yoy). “Penurunan harga beriringan dengan koreksi harga oleh pelaku usaha perhotelan agar tetap kompetitif di tengah melandainya permintaan,” ucap Erwin dikutip dari keterangan resminya, Rabu (11/2/2026).
Mengapa Harga Properti Komersial Di Bali Turun Pada Kuartal IV 2025
Pulau Bali selama ini dikenal sebagai “safe haven” bagi para investor properti global. Namun, dinamika ekonomi yang terjadi pada penghujung tahun 2025 memberikan kejutan bagi para pelaku pasar. Berdasarkan laporan terbaru dari Bank Indonesia mengenai Indeks Harga Properti Komersial (IHPK), wilayah Bali mencatatkan penurunan harga yang cukup signifikan pada Kuartal IV 2025. Fenomena ini menarik perhatian luas, mengingat Bali biasanya merupakan wilayah dengan pertumbuhan nilai aset yang paling konsisten di Indonesia.
Statistik Penurunan Dan Kontraksi Pasar
Secara kumulatif, harga properti komersial di Bali mengalami kontraksi sebesar 3,16% (qtq) dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Jika ditarik secara tahunan, angka ini menunjukkan perlambatan yang kontras dengan lonjakan harga yang sempat terjadi pada awal tahun 2025. Penurunan ini tidak terjadi secara merata di semua sektor, namun segmen akomodasi seperti hotel dan ruko menjadi kontributor terbesar terhadap melemahnya indeks harga tersebut.
Penyebab Utama Melandainya Permintaan
Faktor utama yang mendorong penurunan harga ini adalah melandainya permintaan properti komersial sebesar 4,80% (yoy). Setelah periode euforia pembangunan besar-besaran di kawasan Canggu, Uluwatu, dan Pererenan, pasar mulai mencapai titik jenuh. Para investor kini cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan akuisisi baru.
Sektor perhotelan menjadi sorotan utama. Banyak pemilik hotel menengah mulai melakukan koreksi harga jual properti mereka karena tingkat okupansi yang tidak mencapai target di akhir tahun. Persaingan yang semakin ketat dengan menjamurnya vila-vila privat yang dikelola secara digital membuat hotel-hotel konvensional harus berjuang lebih keras, yang pada akhirnya memengaruhi nilai penilaian (valuation) aset tersebut di pasar komersial.
Pergeseran Tren Ruang Kerja
Selain faktor pariwisata, segmen perkantoran dan ruang usaha juga mengalami tekanan. Dengan munculnya tren digital nomad yang lebih memilih bekerja dari co-working space atau kafe, permintaan terhadap gedung perkantoran konvensional di pusat kota seperti Denpasar dan Badung menurun drastis, hingga tercatat minus 5,98% (yoy). Pemilik gedung mulai menurunkan harga sewa dan harga jual untuk menarik minat penyewa, namun langkah ini justru memperdalam penurunan indeks harga properti komersial secara regional.
Kondisi Pasokan Yang Berlebih Oversupply
Di sisi lain, pasokan properti komersial di Bali justru tetap solid. Banyak proyek yang dimulai pada tahun 2023 dan 2024 baru selesai pada akhir tahun 2025. Ketidakseimbangan antara pasokan yang melimpah dan permintaan yang menurun menciptakan buyer’s market, di mana pembeli memiliki posisi tawar yang lebih kuat untuk menekan harga. Kondisi ini memaksa para pengembang dan pemilik properti untuk menurunkan ekspektasi harga mereka agar aset tetap likuid di pasar.
Proyeksi Di Tahun 2026
Meski mengalami penurunan pada Kuartal IV 2025, para ahli memprediksi bahwa ini adalah bentuk “sehat” dari kalibrasi pasar. Koreksi harga ini memberikan kesempatan bagi investor lokal maupun internasional untuk masuk ke pasar Bali dengan harga yang lebih rasional. Penurunan ini diprediksi tidak akan berlangsung lama, terutama dengan adanya rencana pengembangan infrastruktur transportasi baru seperti jalan tol dan potensi kereta cepat di Bali yang diperkirakan akan kembali mendongkrak nilai properti pada pertengahan 2026.





