Kuncinarasi.com — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama sejumlah Pemerintah Daerah (Pemda) resmi memperkuat kerja sama percepatan transformasi teknologi tambang ramah lingkungan sebagai upaya menekan dampak ekologis dan meningkatkan efisiensi operasional di sektor pertambangan nasional. Langkah ini dianggap krusial mengingat sebagian besar wilayah di Indonesia masih bergantung pada eksploitasi sumber daya alam yang rentan menimbulkan kerusakan lahan, pencemaran air, hingga emisi karbon yang tinggi.
BRIN menegaskan bahwa pemanfaatan Teknologi modern seperti green mining system, pemantauan berbasis sensor, artificial intelligence (AI), serta teknologi pengolahan limbah berkelanjutan menjadi fondasi utama untuk membangun industri tambang yang bertanggung jawab. Dukungan Pemda menjadi penentu, terutama karena sektor tambang sebagian besar berada di bawah pengawasan daerah dan beririsan langsung dengan kepentingan sosial ekonomi masyarakat.
Tantangan Lingkungan dan Dorongan Perubahan Sistem Pertambangan Nasional
Indonesia menghadapi tekanan global untuk menekan jejak karbon dan meningkatkan standar lingkungan dalam industri ekstraktif. Banyak wilayah tambang menyisakan persoalan serius, seperti kualitas tanah yang menurun, sedimentasi sungai, peningkatan potensi longsor, dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Dalam beberapa tahun terakhir, Pemda menerima keluhan warga terkait polusi udara dari aktivitas penambangan batu bara, penggunaan air yang berlebihan di tambang nikel, serta limbah tailing yang sering mencemari aliran sungai. Persoalan tersebut mendorong pemerintah pusat melalui BRIN untuk mengakselerasi riset dan implementasi teknologi tambang hijau.
BRIN menyebut bahwa transformasi ini bukan sekadar penyesuaian teknis, tetapi perubahan paradigma. Pertambangan kini dituntut tidak hanya mengekstraksi mineral, tetapi juga memastikan keberlanjutan lingkungan, keselamatan pekerja, hingga kesejahteraan masyarakat sekitar.
Teknologi Hijau Jadi Kunci Masa Depan Pertambangan
Dalam program percepatan ini, BRIN mengenalkan beberapa teknologi unggulan yang siap diterapkan di berbagai daerah tambang. Di antaranya:
- Teknologi Pemantauan Kebersihan Udara Berbasis IoT
Sistem sensor dipasang di sekitar area tambang untuk mengukur tingkat debu, gas berbahaya, dan perubahan kualitas udara secara real-time. Data yang terkumpul dapat langsung dipantau Pemda dan operator tambang untuk mengurangi risiko kesehatan masyarakat. - Artificial Intelligence untuk Perencanaan Tambang
AI digunakan untuk memetakan area berisiko longsor, mengoptimalkan jalur penambangan, serta memperkirakan dampak lingkungan sebelum eksploitasi dilakukan. Teknologi ini diklaim mampu menekan kerusakan lahan hingga 40%. - Pengolahan Limbah Tailing Berbasis Bioteknologi
Limbah tambang dapat diurai menggunakan mikroorganisme khusus sehingga menghasilkan sedimen yang lebih aman, bahkan dapat dimanfaatkan kembali untuk bahan konstruksi atau reklamasi lahan. - Reklamasi Lahan Otomatis dengan Drone dan Robotika
Drone digunakan untuk memetakan area rusak, sementara sistem robotik membantu penanaman vegetasi baru secara presisi. Pendekatan ini mempercepat pemulihan lahan pascatambang. - Energi Terbarukan untuk Aktivitas Tambang
Pengalihan sebagian operasional menggunakan panel surya dan turbin angin menjadi solusi untuk menekan emisi karbon.
BRIN menegaskan bahwa teknologi ini sudah melewati fase riset bertahun-tahun dan kini siap diadopsi secara masif.
Peran Pemerintah Daerah Menjadi Penentu Keberhasilan Program
Pemda memiliki posisi strategis dalam mempercepat transformasi lingkungan karena mereka menjadi pihak yang bersentuhan langsung dengan perusahaan tambang dan masyarakat. Dalam kemitraan ini, Pemda bertugas menyediakan regulasi pendukung, menyusun peta kebutuhan daerah, serta memberikan akses lahan untuk penerapan teknologi uji coba sebelum skala massal.
Beberapa Pemda menyambut baik kolaborasi ini karena dapat mengurangi potensi konflik sosial yang sering terjadi akibat aktivitas pertambangan. Bupati dan walikota di sejumlah wilayah tambang menyatakan bahwa teknologi ramah lingkungan bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan mendesak untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Pemda juga berkomitmen meningkatkan pengawasan sehingga perusahaan tambang tidak sekadar mengejar profit, tetapi juga menjalankan standar lingkungan yang lebih ketat.
Dampak Ekonomi dan Sosial yang Diharapkan
Selain menurunkan risiko lingkungan, kerja sama BRIN–Pemda diharapkan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas. Penerapan teknologi canggih meningkatkan produktivitas, menurunkan biaya operasional jangka panjang, dan membuka lapangan kerja baru di bidang teknis seperti operator sensor, analis data lingkungan, dan ahli bioteknologi tambang.
Bagi masyarakat, teknologi hijau memberikan harapan pada kualitas hidup yang lebih baik. Sungai yang lebih bersih, udara yang lebih sehat, dan lahan yang bisa direklamasi menjadi kawasan produktif merupakan manfaat nyata yang ingin dicapai.
Sementara itu, dari sisi nasional, program ini dapat meningkatkan daya saing Indonesia sebagai pusat industri pertambangan berkelanjutan di Asia Tenggara.
Harapan ke Depan Tambang Berkelanjutan sebagai Standar Nasional
BRIN menargetkan bahwa dalam lima tahun ke depan, seluruh perusahaan tambang besar dan menengah di Indonesia sudah menerapkan minimal tiga teknologi hijau yang direkomendasikan. Untuk perusahaan kecil, BRIN menyiapkan skema pendampingan agar transformasi tetap inklusif.
Transformasi ini diharapkan menjadi tonggak besar perubahan sektor tambang Indonesia: lebih modern, lebih aman, dan lebih ramah lingkungan. Kolaborasi antara BRIN dan Pemda menjadi bukti bahwa inovasi dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan demi masa depan bumi dan generasi mendatang.




