Kunci Narasi

Kunci Narasi Indonesia

Tren Travelling Menjelajahi Keindahan Lokal Nusantara Kini
Travelling

Tren Travelling Menjelajahi Keindahan Lokal Nusantara Kini

Kuncinarasi.comTren travelling di Indonesia mengalami pergeseran signifikan. Wisatawan kini lebih tertarik untuk menjelajahi keindahan lokal nusantara dibandingkan berlibur ke luar negeri. Faktor pengalaman budaya, alam yang masih alami, serta promosi pariwisata digital membuat destinasi lokal semakin diminati masyarakat, terutama generasi muda.

Kebangkitan Wisata Lokal

Pandemi global beberapa tahun terakhir mendorong masyarakat untuk mengeksplorasi destinasi domestik. Kini, tren ini terus berlanjut. Wisatawan Indonesia semakin menyadari bahwa keindahan alam dan budaya nusantara tidak kalah menarik dibandingkan destinasi internasional.

Menurut data Kementerian Pariwisata 2025, kunjungan wisatawan domestik meningkat sekitar 30% dibandingkan tahun sebelumnya. Pulau Bali tetap populer, namun destinasi alternatif seperti Labuan Bajo, Raja Ampat, Dieng, dan Kawah Ijen mulai ramai dikunjungi, menunjukkan diversifikasi tren wisata.

“Wisata lokal kini menjadi gaya hidup. Orang mencari pengalaman autentik, bukan sekadar foto instagenik,” ujar Dr.

Andini Prasetyo, pakar pariwisata dari Universitas Indonesia.

Destinasi Alam yang Mendominasi

Wisata alam menjadi primadona. Pulau-pulau tropis, pegunungan, dan danau alami menjadi tujuan utama. Raja Ampat di Papua Barat, misalnya, dikenal dengan keindahan bawah lautnya yang memikat penyelam internasional. Labuan Bajo di Flores menjadi pintu masuk menuju Taman Nasional Komodo yang eksotis.

“Keindahan alam lokal kini lebih diperhatikan. Wisatawan ingin merasakan pengalaman yang tidak bisa mereka dapatkan di kota besar,” tambah Dr.

Andini. Wisata hutan mangrove, trekking gunung, hingga camping di alam terbuka menjadi aktivitas populer bagi generasi muda.

Budaya Lokal Menjadi Magnet

Selain alam, wisata budaya juga mendapat perhatian besar. Desa adat, pertunjukan seni, dan kuliner tradisional semakin diminati. Desa Wae Rebo di Flores, misalnya, menawarkan pengalaman tinggal di rumah tradisional sambil belajar budaya lokal. Sementara di Jawa Tengah, wisata candi dan kesenian tradisional menjadi daya tarik tersendiri.

“Orang ingin merasakan autentisitas budaya, bukan sekadar melihat dari jauh. Wisata lokal kini mengedepankan pengalaman immersif,” ujar Andini.

Festival budaya, seperti Festival Danau Toba dan Bali Arts Festival, juga meningkatkan minat wisatawan lokal dan mancanegara.

Pengaruh Media Sosial dan Digitalisasi

Media sosial menjadi salah satu faktor terbesar dalam tren travelling lokal. Instagram, TikTok, dan YouTube memperlihatkan destinasi tersembunyi, yang memicu minat generasi muda untuk berkunjung. Digitalisasi juga mempermudah pemesanan tiket, akomodasi, dan paket wisata melalui aplikasi mobile.

“Sekarang semua informasi wisata bisa diakses dengan cepat. Hal ini mendorong orang untuk menjelajahi destinasi yang sebelumnya tidak diketahui,” kata Arief Nugroho, CEO platform travel lokal.

Aplikasi travel juga mempermudah pengelola destinasi lokal untuk memasarkan potensi wisata mereka kepada audiens yang lebih luas.

Wisata Kuliner dan Produk Lokal

Selain pemandangan alam dan budaya, kuliner lokal menjadi daya tarik utama. Banyak wisatawan datang untuk mencoba makanan khas daerah, mulai dari sate lilit di Bali, coto Makassar, hingga kopi Toraja di Sulawesi. Produk lokal seperti kerajinan tangan, batik, dan perhiasan tradisional juga menjadi magnet tersendiri.

“Wisata kuliner dan produk lokal menambah nilai pengalaman. Orang tidak hanya melihat, tapi juga mencicipi dan membeli,” ujar Arief.

Tren ini membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal dan meningkatkan kesejahteraan komunitas desa wisata.

Pariwisata Berkelanjutan dan Eco-Tourism

Kesadaran lingkungan turut memengaruhi tren travelling. Wisatawan kini lebih peduli pada destinasi yang menerapkan prinsip pariwisata berkelanjutan. Program eco-tourism, seperti konservasi mangrove, wisata laut ramah lingkungan, dan trekking yang bertanggung jawab, semakin diminati.

“Wisata berkelanjutan menjadi kriteria penting bagi banyak wisatawan muda. Mereka ingin liburan yang menyenangkan sekaligus memberikan dampak positif bagi lingkungan,” jelas Dr. Andini.

Hal ini mendorong pelaku usaha wisata untuk menerapkan praktik ramah lingkungan agar tetap menarik bagi pasar modern.

Tantangan dan Peluang

Meskipun tren positif, tantangan tetap ada. Infrastruktur transportasi dan akomodasi di beberapa destinasi masih perlu peningkatan. Akses jalan, layanan internet, serta fasilitas publik menjadi faktor penting agar wisata lokal bisa bersaing dengan destinasi internasional.

Namun, peluang bisnis tetap besar. Sektor hospitality, guide wisata, kuliner, dan produk lokal menjadi ladang investasi. Pemerintah pun mendorong pengembangan desa wisata, promosi digital, dan kolaborasi dengan sektor swasta untuk meningkatkan kualitas dan jumlah kunjungan.

Tren travelling menjelajahi keindahan lokal nusantara kini menunjukkan pergeseran paradigma dari wisata luar negeri ke explore Indonesia. Keindahan alam, budaya autentik, kuliner khas, dan inovasi digital menjadi pilar utama.

Destinasi lokal tidak hanya menarik wisatawan domestik, tetapi juga mancanegara, meningkatkan ekonomi lokal, dan membentuk kesadaran akan kekayaan budaya serta alam Indonesia. Dengan pengelolaan yang tepat, tren ini berpotensi membawa industri pariwisata nusantara menuju pertumbuhan berkelanjutan dan pengalaman wisata yang lebih beragam bagi generasi muda dan keluarga.