Kuncinarasi.com – Pasar properti Jakarta diprediksi akan mengalami pertumbuhan yang solid pada tahun 2026, didukung oleh aktivitas korporasi yang terus berkembang dan prioritas penyewa yang terus berubah. Laporan prospek pasar terbaru CBRE Indonesia menyoroti permintaan yang berkelanjutan di sektor perkantoran, industri dan logistik, ritel, serta perhotelan dalam jangka pendek hingga menengah.
Memasuki tahun 2026, wajah industri properti di Jakarta menunjukkan optimisme yang kuat. Setelah melewati fase transisi pasca-pandemi dan dinamika politik, pasar properti kini memasuki babak baru yang didominasi oleh aktivitas ekspansi korporasi skala besar. Laporan terbaru dari para konsultan properti papan atas, termasuk CBRE Indonesia, memproyeksikan pertumbuhan yang solid di berbagai subsektor, mulai dari perkantoran modern hingga kawasan logistik terpadu.
Ekspansi Korporasi Jadi Mesin Pertumbuhan Utama
Fenomena Work From Office (WFO) yang kembali menjadi standar utama perusahaan global dan domestik telah mengembalikan gairah di kawasan Central Business District (CBD). Ekspansi korporasi, terutama dari sektor teknologi, energi, dan jasa keuangan, mendorong permintaan ruang kantor kelas A yang lebih tinggi. Menariknya, pertumbuhan ini terjadi di tengah terbatasnya pasokan gedung perkantoran baru, yang secara otomatis meningkatkan tingkat okupansi rata-rata hingga di atas 76%.
Perusahaan kini tidak hanya mencari ruang kerja, tetapi juga lingkungan yang mendukung produktivitas dan kesejahteraan karyawan. Hal ini mendorong tren renovasi gedung lama menjadi “kantor hijau” yang ramah lingkungan dan hemat energi, sejalan dengan komitmen keberlanjutan (Sustainability) yang kini menjadi prioritas korporasi global di tahun 2026.
Sektor Industri Dan Logistik Sang Primadona
Jika perkantoran adalah jantung, maka sektor industri dan logistik adalah otot pertumbuhan properti Jakarta tahun ini. Ekspansi perusahaan manufaktur kendaraan listrik (EV) dan e-commerce raksasa telah memicu lonjakan permintaan lahan industri di pinggiran Jakarta. Pada akhir 2025, penyerapan lahan industri tercatat mencapai ratusan hektar dengan tingkat okupansi pusat logistik modern yang menyentuh angka fantastis, yakni 95%.
Korporasi kini lebih memilih konsep gudang siap pakai (Ready-Built Sheds) untuk mempercepat rantai pasok mereka. Tren ini diprediksi akan terus menguat sepanjang 2026, menjadikan subsektor logistik sebagai instrumen investasi properti paling stabil dengan yield yang menggiurkan.
Ritel Dan Gaya Hidup Inovasi Yang Tak Berhenti
Ekspansi korporasi ritel internasional, khususnya dari kawasan Asia Timur seperti China dan Korea Selatan, juga memperkuat posisi Mal-mal kelas atas di Jakarta. Dengan tingkat hunian yang stabil di angka 85-95%, pusat perbelanjaan di Jakarta kini bertransformasi menjadi pusat pengalaman (experience center). Korporasi ritel tidak lagi hanya menjual produk, tetapi membawa konsep pop-up store tematik dan zona gaya hidup yang menarik minat konsumsi masyarakat urban yang tinggi.
Optimisme di tahun 2026 ini berakar pada stabilitas ekonomi nasional yang konsisten dengan pertumbuhan PDB di kisaran 5%. Target ambisius pemerintah untuk pertumbuhan yang lebih tinggi di masa depan memberikan keyakinan bagi investor asing untuk menanamkan modalnya di sektor properti Jakarta. Selain itu, integrasi transportasi publik seperti MRT dan LRT yang semakin luas melalui pengembangan Transit Oriented Development (TOD) menjadi magnet bagi pengembang untuk membangun proyek mixed-use yang terintegrasi.





